Tragedi Name Tag
StandardTempo hari saya berkunjung ke salah satu Bank guna membayar administrasi perkuliahan. Setelah nomor antrean sudah berada di genggaman, saya putuskan untuk duduk di barisan kursi paling belakang. Karena antrean yang masih panjang, alhasil saya pun mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, sekedar melepas rasa suwung. Pandangan saya tertahan pada mbak-mbak Teller yang sibuk melayani Customer. Parasnya cantik, berhijab, mata belo yang dihiasi dengan kaca mata coklat menambah aura kecantikannya. Bibirnya tidak banyak mengeluarkan senyuman, tapi tak menyurutkan antusiasku untuk tetap mengamati mbak-mbak Teller satu ini.
Saya penasaran, siapa nama mbak-mbak Teller ini. Sepintas muncullah sebuah ide, nanti kalau sudah giliran saya, mau saya lihat namanya dari name tag. Kemudian saya cari namanya di sosmed, barangkali juga aktif disana. Aku manggut-manggut kecil seraya memuji ide brilian ku.
Setelah beberapa saat, tibalah saatnya giliranku untuk maju, seraya berjalan layaknya agen 007 yang hendak mengintai penjahat.
“Ada yang bisa saya bantu mas?” Tanyanya dengan nada ramah khas pegawai Bank.
“Mau membayar SPP mbak” Jawabku sambil menyodorkan Kartu Tanda Mahasiswa dan sejumlah uang.
Sejurus kemudian mbak-mbak Teller ini sibuk dengan seantero kertas dan perkakas yang ada di hadapannya. Tibalah saatku untuk mencari tahu, siapa nama mbak-mbak Teller yang sudah menyita perhatianku ini. Pandangan langsung saya pusatkan pada name tag yang terpasang di dada sebelah kiri. Tak butuh waktu lama untuk tahu identitasnya. Namanya Vita. Tak ada tambahan nama panjang yang tercantum setelahnya. Lha ini nyari di sosmednya bagaimana? Yang punya nama Vita kan banyak, keburu Syaiful Jamil keluar dari penjara dong kalo saya nekat nyari. Gerutu saya dalam hati.
Tak lama kemudian mbak-mbak Teller ini berdiri dan memberikan informasi “#&^$@#!^&*%$#”. Pandangan saya masih tertahan di name tag yang terpasang di dada sebelah kiri. Sampai-sampai saya tidak tahu apa yang disampaikan. Setelah sadar, pandangan saya dongakkan ke wajahnya. Ada sedikit keheningan barang sepersekian detik antara saya dan mbak-mbak Teller. Wajahnya kaku, tak ada sebaris senyum yang biasa di lemparkan seorang Teller kepada Customernya. Wajah saya memerah, jantung saya deg-degan bukan main. “Iya mbak” jawabku meng-iya-kan informasi yang diberikan tadi. Kemudian saya bergegas mengambil secarik kertas bukti pembayaran dan pergi meninggalkan mba-mbak Teller dengan satu pertanyaan besar. Apakah mbak-mbak Teller tadi memperhatikan kalau mata saya tertuju di name tag yang berada di dada sebelah kirinya? Dan kalau tahu, semoga tidak mengira saya penjahat seksual yang hobi memelototi bagian tubuh.
Mungkin orang yang mengusulkan name tag dipasang di dada, tidak mempertimbangkan asas kesopanan. Sehingga orang kepo seperti saya tidak leluasa mencari tahu identitas mbak-mbak Teller.

0 komentar:
Posting Komentar