Jumat, 10 Juni 2016

JOHAN

Standard


Orang-orang biasa memanggilku Johan, seantero kampung sudah tahu namaku. Bahkan mengenalku. Kalau disuruh memilih, aku tidak ingin terlalu banyak orang mengenalku. Mereka mengenaliku bukan karena prestasi dan pencapaian yang aku dapat, melainkan peristiwa memilukan dua belas tahun yang silam. Saat aku duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Kejadiannya begitu cepat, tapi aku masih mampu mengingat detil dari peristiwa itu.

Seperti kebanyakan anak-anak lainnya, aku biasa pulang dengan bersepeda bersama teman-teman sekelasku yang lain karena jarak yang lumayan jauh dari rumah. Kami tertawa haha-hihi, bercanda sederhana a la anak seusia delapan tahun. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil berkecepatan tinggi, aku dan teman-temanku sudah menepi ke kiri, perasaanku tidak enak, mobil berjalan berkelok-kelok tidak beraturan. Hanya berselang sepersekian detik, besi berjalan itu menghantam tubuh bagian kananku. Mataku berkunang-kunang, air mataku tumpah, rasa sakit dan ngilu menjalar ke sekujur tubuh, hanya beberapa suara yang mampu ku tangkap, suara orang-orang dewasa nampaknya, setelah itu pandanganku gelap.

Dengan perlahan ku buka mataku, nampaknya aku baru saja pingsan. Aku tidak bisa merasakan tubuhku, rasanya sangat ringan. Seakan-akan hanya tinggal kepala saja tubuh ini. Tidak ada orang di sekelilingku, sepi. Apakah aku sudah mati? Oh tidak, aku belum siap bertemu Tuhan, aku belum pamit bapak dan ibu. Tiba-tiba pintu terbuka, seseorang berpakaian putih masuk. Aku kaget!

“Nak Johan, tetap berbaring, tidak boleh kemana-mana dulu”

Syukurlah, ku kira ini sudah di kayangan, ternyata aku masih hidup, aku sedang dirumah sakit sepertinya. Kesadaranku sudah kembali, aku sadar seratus persen, aku sudah ingat kenapa aku berada disini.

“Nak Johan jangan terlalu banyak bergerak, kamu baru saja selesai operasi.” Ucap dokter muda itu sambil merapikan selimut yang menutupi kakiku.

“Operasi bagian mana dok?” tanya saya penasaran.

“Kaki nak Johan baru saja di amputasi, tapi nak Johan tidak perlu takut. Nanti kalau bekas operasi sudah kering akan di pasang kaki palsu, mirip kaki asli kok, nak Johan bisa berjalan normal tanpa bantuan alat lain” ucap dokter dengan nada rendah, sambil menunjukkan kakiku yang masih dibalut perban, seperti mumi.

Aku menelan ludah, tidak bisa berkata banyak, pikiranku liar membayangkan masa depanku yang mendadak suram. Seketika awan mendung mengelilingi kepalaku, gelap yang sangat pekat. Sebagai anak-anak, aku pasti punya banyak cita-cita waktu itu. Dokter muda ikut berkaca-kaca, mungkin merasa iba melihat wajah polosku yang baru saja kehilangan masa depan.


***

Waktu terus berlalu. Aku sempat mogok sekolah selama satu tahun karena keadaanku yang seperti ini. Aku malu dengan keadaan fisikku. Orangtua ku sering memanggil psikolog anak untuk memulihkan kepercayaan diriku. Tapi rasa-rasanya tidak banyak membantu. Aku sudah terlanjur putus asa.

Setelah beberapa hari dibujuk, akhirnya aku setuju untuk home schooling. Aku sedikit beruntung memiliki orangtua dengan ekonomi yang kuat. Mereka mampu melakukan segala cara untuk bisa mengembalikkan kepercayaan diri anaknya ini.

“Johan, cita-cita kamu apa?” Tanya pak Setyo, guru home schooling ku. Masih muda, kira-kira usianya sekitar tiga puluhan. Berkulit sawo matang, dengan postur tubuh yang mencerminkan orang Indonesia. Dan yang aku suka, dia murah senyum dan sabar.

“Polisi, guru, dokter, banyak pak” Jawabku polos waktu itu.

“Kenapa Johan pengen jadi polisi, guru, sama dokter?”

“Biar bisa bantu banyak orang”

“Nih, bapak kasih tau ya Johan, sebenarnya mata pencaharian itu ada banyak jenisnya. Mulai dari pegawai kantoran, sampai dunia kreatif bisa jadi mata pencaharian. Kalau yang kantoran seperti yang Johan cita-citakan, sepertu guru, polisi, pegawai bank. Tapi kalau yang dunia kreatif lebih enak lagi, Johan bisa kerja bebas tanpa ada yang memerintah, jam kerjanya Johan sendiri yang ngatur. Contohnya pelukis, penyanyi, penulis buku. Pokoknya banyak banget, dan penghasilannya lebih banyak. Johan mau?”

“Mau pak!” jawabku antusias.

Ah, pandai sekali pak Setyo ini mengembalikkan kepercayaan diriku. Kepercayaan diri yang sudah lama tidak hinggap di benakku. Entah pergi kemana. Yang pasti sekarang aku sudah menemukannya. Aku yakin jika bisa memaksimalkan bakat, aku bisa sukses. setidaknya itu yang bisa aku rangkum dari dua tahun bersama pak Setyo. Dua tahun yang menandakan masa home schooling ku bersama beliau sudah selesai. Aku menyelesaikan ketertinggalan pendidikanku dengan rapi, itu artinya, aku selesai jenjang SD sama dengan teman-teman seumuranku.

Aku tidak ingin menghabiskan masa remajaku dengan home schooling, aku ingin duduk di bangku SMP yang sesungguhnya, duduk bersama mereka yang memiliki anggota tubuh lengkap, mereka yang sempurna. Toh, berpikir tidak menggunakan kaki, tapi menggunakan otak, jadi aku masih bisa bersaing.

Sekuat apapun coping stress yang aku buat, rupanya masih belum bisa menutupi kekecewaan ini, awan gelap masih menggelayuti pikiranku. Masa pubertas yang kata orang-orang sebagai masa mencari jati diri, masa mengenali lawan jenis, tidak bisa aku lewati dengan sempurna. Gerakanku yang mirip Robocop ini membatasiku dalam bergaul dengan mereka yang memiliki anggota tubuh lengkap. Kegiatan apapun bisa mereka jalani. Sedangkan aku?

Aku memilih untuk lebih banyak berinteraksi dengan teman sekolah melalui gadget, memaksimalkan fitur chat yang ada. Aku merasa lebih nyaman disini, di duniaku yang ke dua, dunia tanpa batas, bebas, tanpa risih dengan kakiku yang hilang satu akibat peristiwa pilu. Gadget benar-benar memberiku sedikit ruang kenyamanan, sudah seperti sahabat rasa-rasanya.

Selesai SMP, aku melanjutkan ke jenjang SMK, mengambil jurusan Teknik Komputer dan Informatika atas saran pak Setyo. Ya, sesekali aku masih berkomunikasi dengan beliau, yang sudah ku anggap sebagai orangtua keduaku. Katanya, aku disuruh mengikuti apa yang menjadi minatku. Aku mengangguk setuju waktu itu, karena setauku, beliau tidak pernah memberi jalan buntu.

Beranjak SMK tidak banyak merubah caraku berinteraksi. Gadget masih menjadi sahabat setia. Hampir segala jenis gadget smartphone aku miliki. Aku semakin tenggelam dengan duniaku. Disini temanku banyak, hampir semua forum online aku ikuti. Mereka mengenalku dengan nama Joe. Joe sang ahli peretas, setidaknya mereka menghormatiku di dunia maya. Ah, aku suka sekali dengan julukan itu.

Ilmuku di bidang informatika semakin meningkat. Aku juga mulai menggeluti bahasa pemrograman dengan salah seorang rekanku SMK. Namanya Andri, dia sahabatku, sehobi, namun tidak sependeritaan. Kami merancang sebuah game android, game bertema petualangan bernama Long Live, bisa di bilang hampir mirip Sim City. Ini proyek besarku, besar menurut batas kemampuan kami, karena aku yakin diatas langit masih ada langit. Dua bulan kami pertaruhkan, pelajaran sekolah sering ketinggalan karena fokus kami bercabang.

Finally, kerja keras kami berbuah hasil, dalam 4 bulan rilis, pengunduh sudah hampir satu juta. Itu artinya dollar akan menghampiriku, mengaliri pundi-pundi tabungan, membuatku semakin yakin, keterbatasan bukanlah halangan menuju kesuksesan. Walaupun nasi sudah menjadi bubur, toh bubur masih enak dimakan. Bahkan Tuhan sudah menyiapkan suiran daging ayam, dan renyahnya krupuk. Seorang anak SMK dengan kaki cacat sejak kecil sudah mencicipi itu.



Cerpen ini menjadi salah satu kontributor lomba yang diadakan Cessomedia Publisher dan dibukukan menjadi antologi cerpen dalam event bertajuk "I Love Me"

0 komentar:

Posting Komentar