Rabu, 09 November 2016

PENIPUAN BERKEDOK REKRUTMEN KARYAWAN

Standard


Jadi ceritanya begini. Tadi pagi, Rabu tanggal 9 November 2016, saya bangun jam 10.00 WIB, padahal hari ini saya ada panggilan untuk interview jam 10.30 WIB. Saya hanya punya waktu 30 menit untuk mandi dan siap-siap ke lokasi interview. Tapi saya nyantai, duduk-duduk dulu sembari mengumpulkan nyawa. Seperti anak muda pada umumnya, bangun tidur ku terus ngecek HP, barangkali ada mantan yang ngajak balikan. Ternyata tidak ada. Malah saya mendapatkan SMS yang isinya surat undangan untuk mengikuti rekrutmen calon karyawan di PT. Djarum. Informasi selengkapnya ada di email. Dengan sigap saya membuka email. Betapa bahagianya saya, menjadi 1 dari 20 orang yang lolos secara administratif. Selain itu biaya transportasi dan akomodasi ditanggung perusahaan. Wah.. lumayan nih kalau nanti keterima, bisa dapet rokok gratis. Walaupun saya tidak merokok, paling tidak rokoknya bisa saya jual lagi, buat beli korek. Tapi bahagianya saya tunda dulu, saya mau interview.


Yah.. namanya juga buru-buru, sampai lokasi interview lupa bawa dompet. Baru sadar saat mas-mas tukang parkir nyodorin karcis.

“Maaf mas, saya lupa bawa dompet nih, gimana? Ninggal apa dulu?” ucap saya tergesa-gesa.

“Ya sudah, tidak apa-apa mas” jawab mas-mas tukang parkir sambil tersenyum ikhlas.

Interviewnya berlangsung cepat, lebih cepat dari kedipan mata. Jam 11.30 WIB saya sudah berada di rumah. Langsung saya cek email dan lain sebagainya lewat PC, sekedar memastikan bahwa undangan itu benar-benar asli. Saya baca lampiran di email dengan seksama. Tes dilaksanakan di Jakarta pada hari jumat tanggal 11 November 2016 jam 09.00 WIB. Dan ternyata perusahaan juga bekerjasama dengan salah satu travel. Wah, saya hanya punya waktu satu hari untuk mempersiapkan semuanya, batin saya dalam hati.

Pertama saya cek website Djarum terlebih dahulu. Di situ ditulis bahwa perusahaan hanya membuka lowongan pekerjaan melalui website resmi, padahal saya dulu mengetahui lowongan dari website lain. Tapi saya hiraukan saja, palingan websitenya tidak update.

Kedua saya cek di biro yang bekerjasama dengan PT Djarum tersebut. Saya buka websitenya, dan ternyata contact person yang ada di lampiran email dan website beda. Saya hiraukan lagi, barangkali memang ada contact person secara khusus.

Karena sudah tidak sabar, akhirnya saya menelpon contact person yang ada di email.

“Halo, apa betul ini dengan Berkah Abadi Tour & Travel yang kerja sama dengan PT. Djarum?” tanyaku.

“Iya betul, ada yang bisa saya bantu?” jawab laki-laki yang ada di ujung telepon. Masih muda. Usianya kira-kira tidak lebih dari 30 tahun.

“Tadi pagi saya dapat email dari PT Djarum. Untuk proses pemesanan tiketnya seperti apa ya?”

Kemudian mas-mas tadi membeberkan semua informasi teknis pemesanan tiket hingga proses penggantian biaya. Saya dengarkan dengan seksama meskipun suara telepon tersamarkan suara hujan. Biaya transportsi, penginapan dan seragam, totalnya 1.250.000 rupiah. Sampai di titik ini otak saya seperti mengiayakan semua yang diucapkan oleh pihak travel, menghilangkan keraguan-keraguan yang sempat muncul. Cara berbicaranya lancar, seperti customer service pada umumnya. Setelah telepon berakhir, pihak travel memberikan nomer rekening tujuan via SMS agar saya segera transfer dan reservasi perjalanan bisa segera dirampungkan.

Saya duduk-duduk dulu sebelum pergi ke ATM, sembari membayangkan besuk akan seperti apa. Lagian di luar juga sedang hujan deras dan mati lampu. Setelah hujan sedikti reda, saya ambil kartu ATM dan memasukkannya ke dompet. Nah, sampai fase inilah saya mulai berpikir ulang. Coba saya cek lagi deh, cari di google, pikirku. Karena sedang mati lampu, akhirnya saya menuju warnet terdekat. Dan setelah saya search keyword “penipuan PT. Djarum” saya menemukan postingan seseorangan disebuah blog, yang kasusnya mirip yang saya alami sekarang. Modusnya sama, undangan seleksi karyawan PT. Djarum, yang transportasi dan akomodasinya ditanggung oleh pihak perusahaan yang bekerja sama dengan travel. Setelah membaca postingan tersebut saya urungkan niat saya untuk melanjutkan proses reservasi dengan pihak travel. 

Hmm.. untung IPK saya 4,1 jadi tidak gampang dikibulin.

Dari kasus tersebut, ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan:

1. PT. Djarum tidak salah, dan sudah mengingatkan bahwa semua proses rekrutmen diinformasikan lewat website resmi https://www.djarum.com/work/career-opportunities/

2. Perusahaan manapun tidak ada yang menanggung akomodasi dan transportasi pesertanya saat mengadakan proses rekrutmen.

3. Kalau tergesa-gesa jangan lupa bawa dompet.

Sekiranya bermanfaat, silakan di share agar tidak ada korban.




Jumat, 17 Juni 2016

Tragedi Name Tag

Standard

Tempo hari saya berkunjung ke salah satu Bank guna membayar administrasi perkuliahan. Setelah nomor antrean sudah berada di genggaman, saya putuskan untuk duduk di barisan kursi paling belakang. Karena antrean yang masih panjang, alhasil saya pun mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, sekedar melepas rasa suwung. Pandangan saya tertahan pada mbak-mbak Teller yang sibuk melayani Customer. Parasnya cantik, berhijab, mata belo yang dihiasi dengan kaca mata coklat menambah aura kecantikannya. Bibirnya tidak banyak mengeluarkan senyuman, tapi tak menyurutkan antusiasku untuk tetap mengamati mbak-mbak Teller satu ini.

Saya penasaran, siapa nama mbak-mbak Teller ini. Sepintas muncullah sebuah ide, nanti kalau sudah giliran saya, mau saya lihat namanya dari name tag. Kemudian saya cari namanya di sosmed, barangkali juga aktif disana. Aku manggut-manggut kecil seraya memuji ide brilian ku.

Setelah beberapa saat, tibalah saatnya giliranku untuk maju, seraya berjalan layaknya agen 007 yang hendak mengintai penjahat.

“Ada yang bisa saya bantu mas?” Tanyanya dengan nada ramah khas pegawai Bank.

“Mau membayar SPP mbak” Jawabku sambil menyodorkan Kartu Tanda Mahasiswa dan sejumlah uang.

Sejurus kemudian mbak-mbak Teller ini sibuk dengan seantero kertas dan perkakas yang ada di hadapannya. Tibalah saatku untuk mencari tahu, siapa nama mbak-mbak Teller yang sudah menyita perhatianku ini. Pandangan langsung saya pusatkan pada name tag yang terpasang di dada sebelah kiri. Tak butuh waktu lama untuk tahu identitasnya. Namanya Vita. Tak ada tambahan nama panjang yang tercantum setelahnya. Lha ini nyari di sosmednya bagaimana? Yang punya nama Vita kan banyak, keburu Syaiful Jamil keluar dari penjara dong kalo saya nekat nyari. Gerutu saya dalam hati.

Tak lama kemudian mbak-mbak Teller ini berdiri dan memberikan informasi “#&^$@#!^&*%$#”. Pandangan saya masih tertahan di name tag yang terpasang di dada sebelah kiri. Sampai-sampai saya tidak tahu apa yang disampaikan. Setelah sadar, pandangan saya dongakkan ke wajahnya. Ada sedikit keheningan barang sepersekian detik antara saya dan mbak-mbak Teller. Wajahnya kaku, tak ada sebaris senyum yang biasa di lemparkan seorang Teller kepada Customernya. Wajah saya memerah, jantung saya deg-degan bukan main. “Iya mbak” jawabku meng-iya-kan informasi yang diberikan tadi. Kemudian saya bergegas mengambil secarik kertas bukti pembayaran dan pergi meninggalkan mba-mbak Teller dengan satu pertanyaan besar. Apakah mbak-mbak Teller tadi memperhatikan kalau mata saya tertuju di name tag yang berada di dada sebelah kirinya? Dan kalau tahu, semoga tidak mengira saya penjahat seksual yang hobi memelototi bagian tubuh.

Mungkin orang yang mengusulkan name tag dipasang di dada, tidak mempertimbangkan asas kesopanan. Sehingga orang kepo seperti saya tidak leluasa mencari tahu identitas mbak-mbak Teller.

Jumat, 10 Juni 2016

JOHAN

Standard


Orang-orang biasa memanggilku Johan, seantero kampung sudah tahu namaku. Bahkan mengenalku. Kalau disuruh memilih, aku tidak ingin terlalu banyak orang mengenalku. Mereka mengenaliku bukan karena prestasi dan pencapaian yang aku dapat, melainkan peristiwa memilukan dua belas tahun yang silam. Saat aku duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Kejadiannya begitu cepat, tapi aku masih mampu mengingat detil dari peristiwa itu.

Seperti kebanyakan anak-anak lainnya, aku biasa pulang dengan bersepeda bersama teman-teman sekelasku yang lain karena jarak yang lumayan jauh dari rumah. Kami tertawa haha-hihi, bercanda sederhana a la anak seusia delapan tahun. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil berkecepatan tinggi, aku dan teman-temanku sudah menepi ke kiri, perasaanku tidak enak, mobil berjalan berkelok-kelok tidak beraturan. Hanya berselang sepersekian detik, besi berjalan itu menghantam tubuh bagian kananku. Mataku berkunang-kunang, air mataku tumpah, rasa sakit dan ngilu menjalar ke sekujur tubuh, hanya beberapa suara yang mampu ku tangkap, suara orang-orang dewasa nampaknya, setelah itu pandanganku gelap.

Dengan perlahan ku buka mataku, nampaknya aku baru saja pingsan. Aku tidak bisa merasakan tubuhku, rasanya sangat ringan. Seakan-akan hanya tinggal kepala saja tubuh ini. Tidak ada orang di sekelilingku, sepi. Apakah aku sudah mati? Oh tidak, aku belum siap bertemu Tuhan, aku belum pamit bapak dan ibu. Tiba-tiba pintu terbuka, seseorang berpakaian putih masuk. Aku kaget!

“Nak Johan, tetap berbaring, tidak boleh kemana-mana dulu”

Syukurlah, ku kira ini sudah di kayangan, ternyata aku masih hidup, aku sedang dirumah sakit sepertinya. Kesadaranku sudah kembali, aku sadar seratus persen, aku sudah ingat kenapa aku berada disini.

“Nak Johan jangan terlalu banyak bergerak, kamu baru saja selesai operasi.” Ucap dokter muda itu sambil merapikan selimut yang menutupi kakiku.

“Operasi bagian mana dok?” tanya saya penasaran.

“Kaki nak Johan baru saja di amputasi, tapi nak Johan tidak perlu takut. Nanti kalau bekas operasi sudah kering akan di pasang kaki palsu, mirip kaki asli kok, nak Johan bisa berjalan normal tanpa bantuan alat lain” ucap dokter dengan nada rendah, sambil menunjukkan kakiku yang masih dibalut perban, seperti mumi.

Aku menelan ludah, tidak bisa berkata banyak, pikiranku liar membayangkan masa depanku yang mendadak suram. Seketika awan mendung mengelilingi kepalaku, gelap yang sangat pekat. Sebagai anak-anak, aku pasti punya banyak cita-cita waktu itu. Dokter muda ikut berkaca-kaca, mungkin merasa iba melihat wajah polosku yang baru saja kehilangan masa depan.


***

Waktu terus berlalu. Aku sempat mogok sekolah selama satu tahun karena keadaanku yang seperti ini. Aku malu dengan keadaan fisikku. Orangtua ku sering memanggil psikolog anak untuk memulihkan kepercayaan diriku. Tapi rasa-rasanya tidak banyak membantu. Aku sudah terlanjur putus asa.

Setelah beberapa hari dibujuk, akhirnya aku setuju untuk home schooling. Aku sedikit beruntung memiliki orangtua dengan ekonomi yang kuat. Mereka mampu melakukan segala cara untuk bisa mengembalikkan kepercayaan diri anaknya ini.

“Johan, cita-cita kamu apa?” Tanya pak Setyo, guru home schooling ku. Masih muda, kira-kira usianya sekitar tiga puluhan. Berkulit sawo matang, dengan postur tubuh yang mencerminkan orang Indonesia. Dan yang aku suka, dia murah senyum dan sabar.

“Polisi, guru, dokter, banyak pak” Jawabku polos waktu itu.

“Kenapa Johan pengen jadi polisi, guru, sama dokter?”

“Biar bisa bantu banyak orang”

“Nih, bapak kasih tau ya Johan, sebenarnya mata pencaharian itu ada banyak jenisnya. Mulai dari pegawai kantoran, sampai dunia kreatif bisa jadi mata pencaharian. Kalau yang kantoran seperti yang Johan cita-citakan, sepertu guru, polisi, pegawai bank. Tapi kalau yang dunia kreatif lebih enak lagi, Johan bisa kerja bebas tanpa ada yang memerintah, jam kerjanya Johan sendiri yang ngatur. Contohnya pelukis, penyanyi, penulis buku. Pokoknya banyak banget, dan penghasilannya lebih banyak. Johan mau?”

“Mau pak!” jawabku antusias.

Ah, pandai sekali pak Setyo ini mengembalikkan kepercayaan diriku. Kepercayaan diri yang sudah lama tidak hinggap di benakku. Entah pergi kemana. Yang pasti sekarang aku sudah menemukannya. Aku yakin jika bisa memaksimalkan bakat, aku bisa sukses. setidaknya itu yang bisa aku rangkum dari dua tahun bersama pak Setyo. Dua tahun yang menandakan masa home schooling ku bersama beliau sudah selesai. Aku menyelesaikan ketertinggalan pendidikanku dengan rapi, itu artinya, aku selesai jenjang SD sama dengan teman-teman seumuranku.

Aku tidak ingin menghabiskan masa remajaku dengan home schooling, aku ingin duduk di bangku SMP yang sesungguhnya, duduk bersama mereka yang memiliki anggota tubuh lengkap, mereka yang sempurna. Toh, berpikir tidak menggunakan kaki, tapi menggunakan otak, jadi aku masih bisa bersaing.

Sekuat apapun coping stress yang aku buat, rupanya masih belum bisa menutupi kekecewaan ini, awan gelap masih menggelayuti pikiranku. Masa pubertas yang kata orang-orang sebagai masa mencari jati diri, masa mengenali lawan jenis, tidak bisa aku lewati dengan sempurna. Gerakanku yang mirip Robocop ini membatasiku dalam bergaul dengan mereka yang memiliki anggota tubuh lengkap. Kegiatan apapun bisa mereka jalani. Sedangkan aku?

Aku memilih untuk lebih banyak berinteraksi dengan teman sekolah melalui gadget, memaksimalkan fitur chat yang ada. Aku merasa lebih nyaman disini, di duniaku yang ke dua, dunia tanpa batas, bebas, tanpa risih dengan kakiku yang hilang satu akibat peristiwa pilu. Gadget benar-benar memberiku sedikit ruang kenyamanan, sudah seperti sahabat rasa-rasanya.

Selesai SMP, aku melanjutkan ke jenjang SMK, mengambil jurusan Teknik Komputer dan Informatika atas saran pak Setyo. Ya, sesekali aku masih berkomunikasi dengan beliau, yang sudah ku anggap sebagai orangtua keduaku. Katanya, aku disuruh mengikuti apa yang menjadi minatku. Aku mengangguk setuju waktu itu, karena setauku, beliau tidak pernah memberi jalan buntu.

Beranjak SMK tidak banyak merubah caraku berinteraksi. Gadget masih menjadi sahabat setia. Hampir segala jenis gadget smartphone aku miliki. Aku semakin tenggelam dengan duniaku. Disini temanku banyak, hampir semua forum online aku ikuti. Mereka mengenalku dengan nama Joe. Joe sang ahli peretas, setidaknya mereka menghormatiku di dunia maya. Ah, aku suka sekali dengan julukan itu.

Ilmuku di bidang informatika semakin meningkat. Aku juga mulai menggeluti bahasa pemrograman dengan salah seorang rekanku SMK. Namanya Andri, dia sahabatku, sehobi, namun tidak sependeritaan. Kami merancang sebuah game android, game bertema petualangan bernama Long Live, bisa di bilang hampir mirip Sim City. Ini proyek besarku, besar menurut batas kemampuan kami, karena aku yakin diatas langit masih ada langit. Dua bulan kami pertaruhkan, pelajaran sekolah sering ketinggalan karena fokus kami bercabang.

Finally, kerja keras kami berbuah hasil, dalam 4 bulan rilis, pengunduh sudah hampir satu juta. Itu artinya dollar akan menghampiriku, mengaliri pundi-pundi tabungan, membuatku semakin yakin, keterbatasan bukanlah halangan menuju kesuksesan. Walaupun nasi sudah menjadi bubur, toh bubur masih enak dimakan. Bahkan Tuhan sudah menyiapkan suiran daging ayam, dan renyahnya krupuk. Seorang anak SMK dengan kaki cacat sejak kecil sudah mencicipi itu.



Cerpen ini menjadi salah satu kontributor lomba yang diadakan Cessomedia Publisher dan dibukukan menjadi antologi cerpen dalam event bertajuk "I Love Me"