Rabu, 25 Februari 2015

#2 MERANTAU

Standard

Suatu hari si Japra memutuskan untuk hidup merantau ke kota atas saran salah satu dedengkot desa, sebut saja bunga. dengan percaya diri, keesokan harinya dia bergegas untuk merantau ke solo bermodalkan ijazah tamatan PAUD.

Selama ini si Japra jauh dari hingar bingar glamornya kota. Paling jauh daya jelajah Japra hanya sampai di desa sebelah. Itupun diantar emak.

Singkat cerita si Japra sampai di Solo pada pagi hari. Dia terharu melihat hingar-bingar lalu lalang kendaraan bermotor yang memenuhi jalan raya. Matanya pun berkaca-kaca, raut wajah gembira terpancar dari wajahnya yang berbentuk jajar genjang. Dalam hati dia berkata "Soloooo, em komiiiing" kemudian dia menggelar tikar kecil dan mengeluarkan bekal yang dia bawa dari rumah, di trotoar jalan raya. Sambil push up dia menyantap hidangan makan siang. Selesai menyantap makan siang yang ternyata hanya sebungkus ciki, dia melanjutkan perjalanan untuk mencari pekerjaan.

Tiga jam sudah Japra berjalan mengikuti arah mata kaki, namun belum menemukan titik terang dimana dia akan bekerja. Ditengah jalan dia bertemu tukang tambal ban dan bertanya "ada lowongan pekerjaan apa enggak pak di sekitar sini?" kemudian bapak itu menjawab "ada dek disini, kebetulan kompresor saya rusak, jadi butuh orang buat niupin ban". Dengan wajah berseri-seri, dia menyambut niat mulia bapak tersebut.

Setelah 2 hari bekerja sebagai peniup angin ban, khusus ban truk dan bus antar kota, si Japra menuai kecaman, pasalnya angin yang keluar dari mulutnya mengandung senyawa kimia yang berbahaya bagi keselamatan pengendara. Akhirnya Japra dengan keteguhan hati mengundurkan diri dari dunia otomotif. Bersambung....

0 komentar:

Posting Komentar