Beberapa bulan kebelakang kita disuguhi kasus dugaan penistaan agama yang diberitakan begitu massive, yang dilakukan oleh Gubernur non aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau sering disebut Ahok. Ujung pangkal kasus tersebut adalah ketika Pak Ahok dianggap melecehkan Surat Al-Maidah Ayat 51. Umat Muslim yang mengetahui kasus tersebut kemudian melaporkan kepada pihak yang berwajib.
Tapi kali ini saya tidak akan mengulas mengenai Pak Ahok, kasihan jikalau telinga beliau mbenging karena namanya terus-terusan ditulis di media.
Bak bola salju yang terus bergulir, masyarakat –khususnya umat muslim– kemudian ramai-ramai membuat opini mengenai kasus tersebut. Ada yang pro dan ada yang kontra. Ada yang menganggap kasus tersebut murni kasus pelecehan terhadap Kitab Suci Al Quran, ada yang menganggap kasus tersebut adalah masalah rasialisme, bukan penistaan agama.
Bagi kaum Muslim, kasus ini tak ubahnya sebuah panggung ujian seperti halnya seorang murid yang sedang menghadapi UTS atau UAS. Selayaknya sebuah ujian, kisi-kisi juga sudah diberikan, yaitu Al Quran dan Hadist. Tinggal muridnya saja yang mau mempelajari atau tidak. Dan perlu kita ingat, fungsi ujian adalah untuk mengetahui kualitas seorang murid. Bagi yang mendapat nilai bagus akan mendapatkan reward dan murid yang mendapat nilai jelek akan mendapatkan punishment. Bagus atau jeleknya nilai seorang murid ditentukan oleh faktor jawaban saat ujian. Jika kita berandai-andai kasus dugaan penistaan agama ini ibarat sebuah soal ujian, maka berikut ini adalah tipe-tipe murid dalam menghadapi soal ujian:
1. Murid yang paham soal ujian, belajar sesuai kisi-kisi dan menjawab dengan benar.
Golongan yang seperti ini bisa kita anggap murid yang cerdas. Mereka tau soalnya seperti apa, mereka rutin belajar dan mereka juga tau harus menjawab seperti apa.
2. Murid yang tidak pernah mempelajari kisi-kisi. Golongan ini cenderung menjawab soal ujian secara serampangan karena tidak pernah mempelajari kisi-kisi yang ada. Biasanya mereka menjawab dengan logika manusiawinya yang terbatas, dan terkesan ngawur.
3. Murid yang mengumpulkan soal tanpa menjawab pertanyaan.
Golongan seperti ini cenderung golongan yang acuh tak acuh, mereka tidak pernah belajar, dan pada saat ujian juga malas untuk menjawab soal. Alih-alih mengisi lembar ujian dengan jawaban, mereka memilih untuk tidur kemudian mengumpulkan lembar jawab yang kosong.
4. Tipe murid yang menyontek jawaban teman. Golongan ini terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Nyontek golongan ke 1
Golongan ini tergolong murid yang cari aman. Mereka tidak pernah mempelajari kisi-kisi ujian, tetapi mereka tau kepada siapa mereka harus menyontek.
b. Nyontek golongan ke 2
Golongan yang terakhir ini bikin kita geleng-geleng kepala. Mereka tidak tau soalnya seperti apa, belajar pun tidak. Dan yang lebih parah, mereka menyontek kepada orang yang tidak tepat.
Nah, dari tipe-tipe di atas, dimanakah kita berada? Tidak perlu dijawab, kita hanya perlu intropeksi kemudian memperbaiki diri.
|
0 komentar:
Posting Komentar